Pedet dan Induk Sapi

Haii sahabat tebi. Apa kabar nih?

Artikel terbaru kali ini akan membahas tentang sistem penyapihan pada pedet lhoooo.

Kira-kira ada gak yaa pengaruhnya terhadap siklus reproduksi induk?

Udah tau kan kalo pedet alias anak sapi itu punya 4 bagian lambung layaknya sapi dewasa (rumen retikulum omasum abomasuum ^^)

Tapi ada fakta menarik lho sahabat tebi. Ternyataaa pada pedet yang baru lahir tidak semua bagian lambung berfungsi lho walaupunn secara anatomis organ tersebut sudah lengkap. Dari keempat bagian lambung hanya abomasum yang sudah berfungsi, Berikut penjelasannya.

Jadiiii Saat dilahirkan abomasum pedet berukuran 70% dari keseluruhan lambung majemuknya, sangat kontras dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum hanya 8% dari total volume lambung majemuknya. Pada pedet, sistem digestinya mirip dengan sistem digesti monogastrik. Pada fase prerumiansia ini, pakan cair akan masuk melalui esophageal groove, satu lekukan sehingga makanan langsung masuk ke dalam abomasum tanpa melalui lambung depan (rumen, retikulum, omasum).

Abomasum ini secara fisik dan biokimiawi mampu mencerna bahan pakan utama pedet yaitu susu. Pada masa preruminansia ini,abomasum mensekresi renin. Renin mempunyai kemampuan menjendalkan susu dan memisahkkannya menjadi kasein dan whey. Whey masuk ke dalam duodenum dalam 5 menit setelah minum susu, sementara kasein akan tetap berada di dalam abomasum. Renin adalah enzim proteolitik dan bertanggung jawab terhadap pemecahan jendalan susu tersebut pada pedet yang berumur sangat muda sebelum enzim tersebut digantikan oleh pepsin. Jendalan kasein mengalami degradasi secara bertahap oleh renin dan atau pepsin serta asam klorida dan secara partial perncernaan protein ini akan berlangsung selama 24 jam. Setelah masuk ke dalam intestinum maka enzim yang lain akan berperan untuk mencerna bahan pakan tersebut.

Okee kembali ke topik awal ya sahabat tebii. Jadi sebenernya ada gak sih pengaruh dari penyapihan terhadap siklus reproduksi induk?? Ternyata ada pengaruhnya lhoo…

Affandhy et all (2010), menyatakan bahwa penyapihan lebih dini akan mempercepat pemulihan organ reproduksi induk sehingga aktivitas reproduksinya cepat kembali normal dan induk cepat siap dikawinkan dan bunting kembali.

Peternak biasanya menyapih pedet pada umur 3-6 bulan. Prinsipnya lebih cepat lebih baik, di lapangan, penyapihan dini bisa saja dilakukan pada umur 1 bulan. Tetapi resiko kematian pedet tinggi dan pertumbuhannya akan terhambat akibat kurangnya jatah nutrisi dari susu.

Dari hasil penelitian, penyapihan pedet pada umur 12 minggu menghasilkan tingkat AN-ESTRUS POST PARTUS (APP)  dan CALVING INTERVAL (CI) lebih pendek dibandingkan dengan penyapihan pada umur 16 minggu.

Kesimpulannya masa penyapihan yang tepat dapat berpengaruh pada siklus reproduksi induk sapi. Semakin cepat sapi estrus semakin cepat sapi bunting kembali dan semakin cepat pula peternak mendapatkan untung.

Titik kritis penyapihan yang tepat terletak pada tahap transisi pakan. Karena saat itu terjadi perubahan pakan dari susu menuju pakan konsentrat dan serat. Dilansir dasi vet ways indonesia berikut prosedur penyapihan yang baik :

  1. Berikan pakan CALF STARTER sedikit demi sedikit sejak pedet umur 2 – 3 minggu untuk membiasakan pedet memakan pakan padat. Pakan calf starter mengandung protein kasar 18 – 20% dan TDN 75 – 80%;
  2. Lakukan pula pemberian serat hujauan sejak pedet umur 2 – 3 minggu untuk merangsang perkembangan rumen. Serat hijauan itu memang belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok kebutuhan nutrisi pedet. Tetapi, serat hijauan tetap harus (wajib) mulai diperkenalkan sedikit demi sedikit. Tentu saja harus dipilihkan hijauan yang berkualitas dengan tekstur yang halus. Misal, rumput yang masih muda (rumput Gajah, setaria, odot);
  3. Berikan suntikan vitamin A, D dan E karena ketiga vitamin tsb berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh pedet terhadap infeksi bibit penyakit;
  4. Berikan obat anti cacing pada umur 1 bulan dan diulang setiap 3 bulan;
  5. Saat pedet berumur 8 minggu, pemberian susu bisa mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Sedangkan pakan calf starter dan serat hijauan mulai ditingkatkan. Selama periode ini akan terjadi perubahan fungsi rumen dari kondisi PRE-RUMINANT menjadi TRUE RUMINANTIA (ruminansia sejati) yang ditandai oleh meningkatnya volume dan perkembangan papilla rumen;
  6. Saat pedet memasuki umur 12 minggu atau ketika pedet sudah mampu mengkonsumsi pakan calf starter sebanyak 0,5 – 0,7 kg/ekor/hari dan serat hijauan 1,5 – 2,0 kg/ekor/hari, maka bisa dikatakan rumen pedet sudah berkembang dengan baik. Pada kondisi tsb pemberian susu bisa dihentikan dan pedet memasuki fase lepas sapih;
  7. Pada umur 3 bulan, pakan calf starter mulai diganti dengan pakan konsentrat yang mengandung PK 16% dan TDN 70%.
  8. Ketika memasuki umur 6 bulan, pemberian konsentrat belum boleh melebihi 2 kg/ekor/hari agar pertambahan bobot badannya tidak berlebihan (obesitas) terutama calon indukan. Sedangkan pemberian serat hijauan boleh diberikan ad libitum;
  9. Berikan feed supplement injeksi B Complex dan mikro mineral via pakan konsentrat;
  10. Setelah lepas sapih, pedet bisa dipelihara di kandang koloni sesuai jenis kelamin, umur dan bobot badan. Pedet jantan dan betina dipelihara secara terpisah;
  11. Selalu dikontrol kesehatannya. Pisahkan pedet yang sakit dari yang sehat agar tidak terjadi penularan. Yang sakit harus segera diobati sampai tuntas. Bila perlu panggil dokter hewan kesayangan Anda.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s