Pedet dan Induk Sapi

Haii sahabat tebi. Apa kabar nih?

Artikel terbaru kali ini akan membahas tentang sistem penyapihan pada pedet lhoooo.

Kira-kira ada gak yaa pengaruhnya terhadap siklus reproduksi induk?

Udah tau kan kalo pedet alias anak sapi itu punya 4 bagian lambung layaknya sapi dewasa (rumen retikulum omasum abomasuum ^^)

Tapi ada fakta menarik lho sahabat tebi. Ternyataaa pada pedet yang baru lahir tidak semua bagian lambung berfungsi lho walaupunn secara anatomis organ tersebut sudah lengkap. Dari keempat bagian lambung hanya abomasum yang sudah berfungsi, Berikut penjelasannya.

Jadiiii Saat dilahirkan abomasum pedet berukuran 70% dari keseluruhan lambung majemuknya, sangat kontras dengan kondisi saat dewasa dimana abomasum hanya 8% dari total volume lambung majemuknya. Pada pedet, sistem digestinya mirip dengan sistem digesti monogastrik. Pada fase prerumiansia ini, pakan cair akan masuk melalui esophageal groove, satu lekukan sehingga makanan langsung masuk ke dalam abomasum tanpa melalui lambung depan (rumen, retikulum, omasum).

Abomasum ini secara fisik dan biokimiawi mampu mencerna bahan pakan utama pedet yaitu susu. Pada masa preruminansia ini,abomasum mensekresi renin. Renin mempunyai kemampuan menjendalkan susu dan memisahkkannya menjadi kasein dan whey. Whey masuk ke dalam duodenum dalam 5 menit setelah minum susu, sementara kasein akan tetap berada di dalam abomasum. Renin adalah enzim proteolitik dan bertanggung jawab terhadap pemecahan jendalan susu tersebut pada pedet yang berumur sangat muda sebelum enzim tersebut digantikan oleh pepsin. Jendalan kasein mengalami degradasi secara bertahap oleh renin dan atau pepsin serta asam klorida dan secara partial perncernaan protein ini akan berlangsung selama 24 jam. Setelah masuk ke dalam intestinum maka enzim yang lain akan berperan untuk mencerna bahan pakan tersebut.

Okee kembali ke topik awal ya sahabat tebii. Jadi sebenernya ada gak sih pengaruh dari penyapihan terhadap siklus reproduksi induk?? Ternyata ada pengaruhnya lhoo…

Affandhy et all (2010), menyatakan bahwa penyapihan lebih dini akan mempercepat pemulihan organ reproduksi induk sehingga aktivitas reproduksinya cepat kembali normal dan induk cepat siap dikawinkan dan bunting kembali.

Peternak biasanya menyapih pedet pada umur 3-6 bulan. Prinsipnya lebih cepat lebih baik, di lapangan, penyapihan dini bisa saja dilakukan pada umur 1 bulan. Tetapi resiko kematian pedet tinggi dan pertumbuhannya akan terhambat akibat kurangnya jatah nutrisi dari susu.

Dari hasil penelitian, penyapihan pedet pada umur 12 minggu menghasilkan tingkat AN-ESTRUS POST PARTUS (APP)  dan CALVING INTERVAL (CI) lebih pendek dibandingkan dengan penyapihan pada umur 16 minggu.

Kesimpulannya masa penyapihan yang tepat dapat berpengaruh pada siklus reproduksi induk sapi. Semakin cepat sapi estrus semakin cepat sapi bunting kembali dan semakin cepat pula peternak mendapatkan untung.

Titik kritis penyapihan yang tepat terletak pada tahap transisi pakan. Karena saat itu terjadi perubahan pakan dari susu menuju pakan konsentrat dan serat. Dilansir dasi vet ways indonesia berikut prosedur penyapihan yang baik :

  1. Berikan pakan CALF STARTER sedikit demi sedikit sejak pedet umur 2 – 3 minggu untuk membiasakan pedet memakan pakan padat. Pakan calf starter mengandung protein kasar 18 – 20% dan TDN 75 – 80%;
  2. Lakukan pula pemberian serat hujauan sejak pedet umur 2 – 3 minggu untuk merangsang perkembangan rumen. Serat hijauan itu memang belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok kebutuhan nutrisi pedet. Tetapi, serat hijauan tetap harus (wajib) mulai diperkenalkan sedikit demi sedikit. Tentu saja harus dipilihkan hijauan yang berkualitas dengan tekstur yang halus. Misal, rumput yang masih muda (rumput Gajah, setaria, odot);
  3. Berikan suntikan vitamin A, D dan E karena ketiga vitamin tsb berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh pedet terhadap infeksi bibit penyakit;
  4. Berikan obat anti cacing pada umur 1 bulan dan diulang setiap 3 bulan;
  5. Saat pedet berumur 8 minggu, pemberian susu bisa mulai dikurangi sedikit demi sedikit. Sedangkan pakan calf starter dan serat hijauan mulai ditingkatkan. Selama periode ini akan terjadi perubahan fungsi rumen dari kondisi PRE-RUMINANT menjadi TRUE RUMINANTIA (ruminansia sejati) yang ditandai oleh meningkatnya volume dan perkembangan papilla rumen;
  6. Saat pedet memasuki umur 12 minggu atau ketika pedet sudah mampu mengkonsumsi pakan calf starter sebanyak 0,5 – 0,7 kg/ekor/hari dan serat hijauan 1,5 – 2,0 kg/ekor/hari, maka bisa dikatakan rumen pedet sudah berkembang dengan baik. Pada kondisi tsb pemberian susu bisa dihentikan dan pedet memasuki fase lepas sapih;
  7. Pada umur 3 bulan, pakan calf starter mulai diganti dengan pakan konsentrat yang mengandung PK 16% dan TDN 70%.
  8. Ketika memasuki umur 6 bulan, pemberian konsentrat belum boleh melebihi 2 kg/ekor/hari agar pertambahan bobot badannya tidak berlebihan (obesitas) terutama calon indukan. Sedangkan pemberian serat hijauan boleh diberikan ad libitum;
  9. Berikan feed supplement injeksi B Complex dan mikro mineral via pakan konsentrat;
  10. Setelah lepas sapih, pedet bisa dipelihara di kandang koloni sesuai jenis kelamin, umur dan bobot badan. Pedet jantan dan betina dipelihara secara terpisah;
  11. Selalu dikontrol kesehatannya. Pisahkan pedet yang sakit dari yang sehat agar tidak terjadi penularan. Yang sakit harus segera diobati sampai tuntas. Bila perlu panggil dokter hewan kesayangan Anda.
Advertisements

SAPI CACINGAN ? WASPADALAH

Sahabat Tebi akhir pekan ini ada sedkit informasi nih tentang sapi yang cacingan, monggo disimak ya beritanya.

au sap - ternak sapi

Tahukah Anda bahwa hampir semua sapi yang dipelihara secara tradisional menderita cacingan? Dan ironisnya masih saja banyak orang yang memandang sebelah mata penyakit ini. Secara kasat mata, memang tidak semua sapi yang menderita cacingan terlihat sakit, tetapi rata-rata menunjukkan gejala kekurusan. Tingkat keparahan yang ditimbulkan oleh serangan parasit cacing pun tergantung pada jenis cacing, jumlah cacing yang menyerang, umur sapi yang terserang serta kondisi pakan.

Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, namun secara ekonomi dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu tidak heran kalau penyakit cacingan ini sering disebut sebagai penyakit ekonomi. Lantas apa saja kerugian-kerugian ekonomi yang ditimbukan oleh penyakit cacingan pada sapi? Ternyata cukup banyak, mulai dari penurunan berat badan, terhambatnya pertumbuhan pada sapi muda, penurunan kualitas daging, kulit dan jeroan pada ternak potong, penurunan produksi susu pada ternak perah dan bahaya penularan pada manusia. Hasil suatu penelitian menyatakan bahwa kasus cacingan menyebabkan keterlambatan pertumbuhan berat badan per hari sebanyak 40% pada sapi potong dan penurunan produksi susu sebesar 15% pada sapi perah (Siregar, 2013).

Melihat fakta di atas, masihkah penyakit cacingan pada sapi dipandang sebelah mata? Sudah sepantasnya kita waspada terhadap serangan penyakit cacingan yang setiap saat selalu mengintai ternak sapi. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita mulai sedikit bernostalgia dengan penyakit yang sepanjang tahun 2012 lalu nyaris menduduki urutan paling teratas dalam hal laporan kejadian kasus di lapangan (Infovet, 2012).

 Cacingan pada Sapi dan Agen Penyebabnya

Cacingan atau dalam kamus kedokteran dikenal dengan istilah helminthiasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh adanya infestasi cacing pada tubuh hewan, baik pada saluran percernaan, pernapasan, hati, maupun pada bagian tubuh lainnya. Pada sapi, umumnya infestasi cacing sering ditemukan pada saluran pencernaan dan hati.

Berdasarkan bentuknya, jenis cacing yang dapat menyerang sapi dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu cacing gilig (Nematoda), cacing pita (Cestoda) dan cacing daun atau cacing hati (Trematoda).

  • Cacing gilig (Nematoda)

au sap - cacing toxocara

Sesuai dengan namanya, cacing gilig memiliki bentuk tubuh yang bulat seperti pipa dengan kedua ujungnya yang meruncing. Sebagian besar cacing ini memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil. Beberapa spesies yang dapat menyerang ternak sapi di antaranya Toxocara vitulorumOesophagostomum radiatum,Agryostomum vryburgiBunostomum phlebotomumTrichostrongylus spp.Nematodirus spp.Cooperia spp.Ostertagia ostertagiHaemonchus placei dan Mecistocirrus digitatus.

Namun, dari beberapa spesies tersebut yang paling sering ditemukan kasusnya terutama pada pedet (sapi muda) yaitu spesies Toxocara vitulorum yang penyakitnya dikenal dengan istilah toxocariasis. Cacing yang dikenal juga dengan Neoascaris vitulorum ini habitatnya di dalam usus halus sapi dan berukuran paling besar dibandingkan spesies nematoda lainnya. Cacing jantan berukuran 250 x 5 mm, sedangkan betinanya 300 x 6 mm. Telur cacing T. vitulorum berbentuk bulat dan memiliki ciri khas dinding telur yang tebal.

Kasus toxocariasis dimulai dengan termakannya feses yang mengandung telur cacing T. vitulorum oleh sapi. Selanjutnya telur akan menetas di usus halus dan menjadi larva. Larva kemudian dapat bermigrasi (pindah) ke hati, paru-paru, jantung, ginjal, bahkan plasenta dan masuk ke cairan amnion (ketuban) serta ke dalam kelenjar ambing dan keluar bersama kolostrum. Kolostrum yang diminum oleh pedet akan menjadi sumber penularan cacing T. vitulorum. Sementara, larva yang tetap berada dalam usus akan berkembang menjadi cacing dewasa dan selanjutnya menghasilkan telur yang bisa ikut terbuang bersama feses sapi.

Dilihat dari siklus hidupnya, maka penularan kasus toxocariasis pada sapi dapat terjadi melalui pakan atau air yang terkontaminasi oleh telur maupun larva cacing dan melalui kolostrum yang mengandung larva cacing.

  • Cacing hati (Trematoda)

au sap - cacing fasciola

Kasus cacingan pada sapi akibat cacing hati (Fasciola sp.) cukup banyak dan sudah tak asing lagi dijumpai di lapangan. Kejadiannya terutama banyak dilaporkan pada saat perayaan Idul Adha, dimana pada waktu tersebut banyak orang yang melakukan penyembelihan hewan kurban khususnya sapi. Terdapat 2 spesies yang cukup penting di dunia, yaitu Fasciola hepatica dan Fasciola gigantica. Namun, spesies yang paling sering ditemukan pada sapi di Indonesia yaitu F. gigantica. Secara umum, cacing hati berbentuk gepeng atau pipih seperti daun, namun untuk spesies F. gigantica tubuhnya lebih memanjang dibandingkan F. hepatica. Sesuai dengan namanya cacing hati berhabitat di hati dan saluran empedu. Infestasi cacing ini dikenal dengan istilah fasciolosis.

  • Cacing pita (Cestoda)

au sap - potongan cacing

Jenis cacing pita yang dapat menyerang sapi ialah spesies Taenia sp.Moniezia sp. dan Echinococcus granulosus. Dari ketiga cacing tersebut, hanya spesies Moniezia sp. yang hidup sampai dewasa dalam tubuh sapi. Namun, serangan cacing pita yang paling umum ditemukan pada sapi terutama oleh genusTaenia, yaitu Taenia saginata.

Serangan cacing pita ini tidak berbahaya bagi ternak sapi itu sendiri karena dalam tubuh sapi telur cacing yang termakan bersama rumput hanya berkembang sampai fase larva. Larva cacing T. saginata yang berada dalam usus sapi selanjutnya akan menembus pembuluh darah dan ikut bersama aliran darah hingga sampai di otot. Selanjutnya, manusia perlu waspada terhadap serangan cacing pita ini, karena larva yang termakan dari daging sapi mentah atau yang dimasak kurang matang dapat berkembang menjadi cacing dewasa dalam usus halus manusia. Cacing pita dewasa akan menyerap sari-sari makanan dalam usus dan dapat menyebabkan penyumbatan usus.

Panjang cacing T. saginata dewasa berkisar antara 4-8 meter dan terdiri atas segmen-segmen yang disebut proglotida. Proglotida yang telah matang, atau disebut juga proglotida gravid, pada cacing dewasa berisi alat reproduksi jantan dan betina serta puluhan ribu telur. Bisa dibayangkan betapa banyaknya telur yang dihasilkan oleh 1 ekor cacing pita dewasa yang selanjutnya siap masuk kembali kedalam tubuh sapi untuk berkembang menjadi bentuk yang siap masuk ke dalam tubuh manusia.

Cara Mendiagnosa Cacingan pada Sapi

Salah satu problem tidak teridentifikasinya kasus cacingan pada sapi yaitu akibat minimnya gejala klinis yang dapat teramati. Bahkan pada kasus cacingan yang masih awal, sapi biasanya masih terlihat sehat tanpa menunjukkan adanya gejala klinis. Selain itu, gejala klinis yang muncul pada kasus cacingan pun merupakan gejala yang sangat umum sehingga kadang masih menyulitkan untuk mengarahkan diagnosa. Terkecuali jika kasus cacingan sudah sangat parah, maka dapat kita temukan adanya cacing dewasa pada feses sapi, terutama untuk cacing yang menyerang saluran pencernaan.

Untuk membantu meneguhkan diagnosa cacingan pada sapi dapat dilakukan melalui uji laboratorium, yaitu uji feses. Pemeriksaan atau uji feses bertujuan untuk mengetahui keberadaan telur cacing secara kualitatif maupun kuantitatif. Selain keberadaan telur, pada feses juga dapat ditemukan keberadaan larva cacing. Lebih jauh lagi, pada uji feses ini dapat diidentifikasi jenis cacing yang menyerang berdasarkan karakteristik telur yang ditemukan. Melalui uji ini juga kasus cacingan pada sapi dapat diidentifikasi sejak dini sehingga pengobatannya pun akan relatif lebih mudah dan kerugian ekonomi yang lebih besar dapat diminimalkan.

 

Pengendalian dan Penanganan Cacingan

Pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi dapat dilakukan dengan cara yang sederhana, yaitu memutus siklus hidup dari parasit cacing tersebut. Cara ini dianggap cukup murah dan sangat efektif untuk memberantas kasus cacingan pada sapi yang selalu berulang dari tahun ke tahun. Beberapa hal yang harus diperhatikan terkait upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan pada sapi di antaranya :

  • Program pemberian anthelmintika (obat cacing)

Pemberian anthelmintika merupakan langkah utama dalam upaya pengendalian dan penanganan cacingan baik pada pedet maupun sapi dewasa. Pemberian anthelmintika sebaiknya tidak hanya dilakukan pada ternak sapi yang telah dipastikan positif cacingan mengingat hampir sebagian besar sapi terutama yang dipelihara secara tradisional menderita cacingan. Program pemberian anthelmintika sebaiknya dilakukan sejak masih pedet (umur 7 hari) dan diulang secara berkala setiap 3-4 bulan sekali guna membasmi cacing secara tuntas dan memutus siklus hidup parasit tersebut (Agrina, 2011).

Beberapa produk anthelmintika Medion yang dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig pada sapi yaitu Nemasol-KVermizyn SBKWormectin Injeksi dan Wormzol-B. Produk Wormzol-B selain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada sapi.

  • Sanitasi kandang dan lingkungan

Kasus cacingan pada sapi akan menjadi lebih sulit diberantas jika tidak ditunjang dengan sanitasi kandang dan lingkungan yang baik. Upaya yang dapat dilakukan di antaranya menjaga drainase kandang dan lingkungan di sekitarnya sehingga tidak lembab dan becek serta menghindari adanya kubangan-kubangan air pada tanah. Selain itu, tanaman dan rumput-rumput liar di sekitar kadang dibersihkan serta melakukan desinfeksi kandang secara rutin menggunakan AntisepNeo AntisepFormades atau Sporades.

  • Sistem penggembalaan dan pemberian rumput

Saat menggembalakan sapi, sebaiknya hindari tempat-tempat penggembalaan yang becek dan padang rumput yang diberi pupuk kandang tanpa diketahui dengan jelas asal usulnya. Selain itu, ternak sapi sebaiknya tidak digembalakan terlalu pagi karena pada waktu tersebut larva cacing biasanya dominan berada di permukaan rumput yang masih basah. Guna memutus siklus hidup cacing, sebaiknya sistem penggembalaan dilakukan secara bergilir. Artinya sapi tidak terus-menerus digembalakan di tempat yang sama. Pada padang penggembalaan juga dapat ditaburkan copper sulphate untuk mencegah perkembangan larva cacing hati. Untuk sapi yang dipelihara secara intensif, pemberian rumput segar sangat tidak dianjurkan. Sebaiknya rumput dilayukan terlebih dahulu sebelum diberikan pada sapi guna menghindari termakannya larva cacing yang menempel pada rumput.

  • Populasi inang antara

Mengingat beberapa spesies cacing membutuhkan inang antara seperti siput air tawar untuk kelangsungan hidup cacing hati, maka populasinya menjadi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengendalian dan penanganan kasus cacingan. Populasi siput air tawar dapat dikurangi dengan cara memelihara itik atau bebek yang berperan sebagai predator alami inang antara tersebut. Selain itu, lingkungan harus dijaga supaya tidak terlalu lembab dan basah karena kondisi tersebut sangat baik untuk kelangsungan hidup siput air tawar.

  • Kualitas Pakan

Percaya atau tidak, bahwa kualitas pakan mempengaruhi tingkat kejadian cacingan pada ternak sapi. Kualitas pakan, baik rumput maupun konsentrat, yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan ternak sapi karena nutrisi yang diperlukan tercukupi.

  • Monitoring telur dan larva cacing

Sebagaimana kita ketahui bahwa penularan kasus cacingan sangat mudah terjadi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor predisposisi. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya monitoring secara rutin (2-3 bulan sekali) terhadap telur dan larva cacing melalui uji feses. Untuk menunjang hal tersebut, saat ini Medion telah memiliki laboratorium yang dapat melayani uji tersebut, yaitu MediLab yang telah tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

Upaya pengendalian dan penanganan cacingan ini sebenarnya sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua kalangan peternak. Namun, untuk menunjang hal ini diperlukan sebuah komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak bahwa upaya pengendalian dan penanganan kasus cacingan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Jika kedua modal utama tersebut hanya dimiliki oleh sebagian peternak, maka dapat kita ramalkan tingkat keberhasilan pun menjadi lebih kecil.

Nah sahabat Tebi dari seluruh bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penyakit cacingan telah menjadi penyakit ekonomi yang menimbulkan kerugian cukup besar. Guna mengatasi kasusnya yang terus berulang diperlukan pengendalian dan penanganan dengan memutus siklus hidup cacing yang sifatnya berkelanjutan dengan ditunjang oleh komitmen dan kesadaran yang tinggi dari seluruh peternak. Sebagai pemegang kendali atas profesi dokter hewan, mari kita terus belajar guna menciptakan lingkungan yang berkesinambungan antara alam dan manusia.

Info Medion Edisi Juni 2013

(http://info.medion.co.id)

BE TB BE SUCCESS VETERINARIAN

PRODUKSI SUSU MENURUN – RUGI 436 JUTA

20140219-121117_20

Sahabat Tebi kalian tahu gag sih ? Akibat Gunung Kelud sempat batuk beberapa hari yang lalu ternyata tidak hanya manusia saja korbannya tapi juga hewan ternak merasakan dampaknya juga, terlebih lagi para peternaknya yang harus legowo mengelus dada mereka. Monggo dibawah ini dibaca beritanya.

Malang – Para peternak sapi perah di wilayah terdampak erupsi Gunung Kelud di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mengalami kerugian cukup besar. Yakni mencapai Rp 436 juta per hari akibat menurunnya produksi susu di daerah itu.

Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Timur Sulistiyanto di Malang, Senin, mengatakan menurunnya produksi susu tersebut disebabkan beberapa hal. Antara lain karena sapi mengalami stres dan berkurangnya nutrisi sapi akibat tidak adanya pasokan pakan yang layak, terutama rumput.

“Penurunan kapasitas produksi tersebut hanya terjadi di wilayah Kecamatan Ngantang dan Kasembon saja, sedangkan di Kecamatan Pujon masih tetap berproduksi, meski turun cukup drastis,” ujar Sulistiyanto.

Ia menyebutkan secara keseluruhan produksi susu di wilayah Kabupaten bagian barat itu menurun hingga 50 persen. Di Pujon misalnya, dari rata-rata produksi pada hari normal sebesar 90 ton per hari, turun menjadi 45 ton per hari.

Di Ngantang, dari produksi rata-rata sebanyak 80 ton per hari menjadi 40 ton per hari, di Kasembon dari produksi sekitar 10 ton per hari menjadi 6 ton per hari, sedangkan di Batu masih tetap stabil, yakni rata-rata mencapai 25 ton per hari.

Meski dirinya sudah tahu secara rinci berapa penurunan produksi susu di Kecamatan Ngantang, Kasembon, dan Pujon, Sulistiyanto masih belum tahu secara pasti berapa jumlah sapi yang mati akibat guyuran abu vulkanik Gunung Kelud karena belum ada laporan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Sudjono mengatakan wilayah Kabupaten Malang yang terdampak erupsi Gunung Kelud dan mengganggu produksi susu ada tiga wilayah. Sedangkan sentra produksi susu lainnya masih berjalan normal.

Bahkan, katanya, di Pujon, peternak masih tetap bisa berproduksi karena pasokan listrik untuk mengaliri energi tempat pendingin masih tetap beroperasi.

“Yang menjadi pemikiran kami justru pasokan pakan hijauan bagi ternak karena rerumputan di wilayah itu hampir seluruhnya mati akibat guyuran abu vulkanik,” ujarnya.

Selain terjadi penurunan jumlah produksi, kata Sudjono, kualitas susu yang dihasilkan pun pasti juga menurun akibat pakan ternaknya juga kurang memadai.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi perah tersebut, Pemkab Malang yang dibantu PT Nestle telah mendatangkan konsentrat (pakan ternak) sebanyak 80 ton dan telah dibagikan pada peternak di wilayah Ngantang, Pujon, dan Kasembon.

Bahkan, katanya, untuk memudahkan pengawasan dan penanganan terhadap ternak, Pemkab Malang juga telah membuka posko khusus ternak di Kecamatan Ngantang dan melakukan patroli pada malam hari.

“Ternak sapi perah yang jumlahnya mencapai ribuan ekor itu tidak mungkin dievakuasi karena tidak ada lahan yang representatif untuk ternak-ternak tersebut. Satu-satunya cara yang bisa kami lakukan ya membuka posko khusus ternak dan mendistribusikan pakan,” ujar Bupati Malang Rendra Kresna belum lama ini.

Sahabat Tebi yang budiman, dengan adanya berita ini sudah selakyaknya kita prihatin dan berusaha mencari solusi yang tepat, apalagi kesehatan ternak itu tanggung jawab kita. Bagaimana ternak itu bisa sehat dan terhindar dari segala penyakit yang tersebar dari kejadian meletusnya gunung kelud ini. Kita doakan saja supaya semuanya menjadi baik dan cepat terselasaikan.

BE TB BE SUCCES VETERINARIAN

Sumber: Antara/MUT

Menyeruput Susu Kerbau Sumbawa

Sumbawa, kawasan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sepertinya diberikan takdir oleh Tuhan memiliki kekayaan alam melimpah. Di kawasan ini populer dengan beragam asupan untuk menyehatkan tubuh. Mulai dari madu tawon bermutu, susu kuda liar yang dipercaya sanggup meningkatkan vitalitas, hingga susu kerbau dengan kualitas yang diyakini lebih bagus daripada susu sapi. Sumbawa juga mempunyai sumber daya alam di Batu Hijau yang kini dikelola oleh PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT).

Untuk membuktikan semua itu, Tempo putuskan melancong ke Desa Rarak, Kecamatan Telaga Bertong, Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, yang kabarnya gudang pemerahan susu kerbau.

Bahkan, di desa tersebut, Tempo bertemu langsung dengan peternak kerbau sekaligus penyedia susu hewan yang suka kubangan ini. Dia adalah Ahmad “Wage” Baso. Pria keturunan generasi ketiga suku bangsa Bugis Makassar di Nusa Tenggara Barat ini merupakan penyedia susu kerbau yang populer di kawasan tersebut.

Menurut Wage, susu kerbau lebih kental dan gurih daripada susu sapi. Bagi orang yang sulit tidur atau terkena penyakit insomnia, jelasnya, susu kerbau sangat cocok untuk mengatasinya. “Susu kerbau membuat orang enak tidur, meningkatkan nafsu makan, serta menambah stamina,” kata lelaki berusia 42 tahun itu kepada Tempo, pekan lalu.

Ucapan Wage bukanlah isapan jempol. Tempo juga sempat nyeruput susu kerbau hasil perahan yang disimpan di botol minuman mineral ukuran 600 mililiter seharga Rp 15 ribu per botol. “Rasanya memang mantap dan lebih kental ketimbang susu sapi atau susu kambing.”

Anehnya lagi, untuk mengkonsumsi susu kerbau, tak perlu melalui proses pasteurisasi alias dipanaskan di atas bara api, melainkan diminum langsung seusai diperah.

“Susu ini memang lebih enak diminum langsung setelah diperah dari puting kerbau,” ujar Jen Makassau, pria berusia 35 tahun yang sudah lima tahun berlangganan susu kerbau Wage.

Kalau dipanaskan, menurut Ibrahim Baso, pemuda yang memiliki empat ekor kerbau, rasanya tak segurih susu yang masih mentah. “Lebih enak diglek langsung,” katanya kepada Tempo.

Jen Makassau menambahkan, susu kerbau selain bisa diminum langsung dapat pula diolah menjadi makanan tradisional yang disebut palopo atau permen. Bahan baku palopo adalah susu kerbau, gula jawa, dan para (sejenis jeruk berduri) untuk mempercepat proses pengentalan susu. Kue ini, jelas Jen, telah menjadi makanan tradisional dan khas KSB (Kabupaten Sumbawa Barat). “Hampir semua orang yang berkunjung ke KSB biasanya mencari palopo yang terbuat dari susu kerbau,” ujar Jen.

Beberapa hasil penelitian yang dikutip dari Hasinah & Handiwirawan, 2007, menyebutkan tekstur krem dalam susu kerbau yang halus sangat ideal untuk berbagai produk hasil susu dan lebih efektif dalam biaya dibandingkan susu sapi. Kandungan kolesterol susu kerbau 43 persen lebih rendah dari susu sapi, sedangkan kadar kalsiumnya 65 persen lebih tinggi dari susu sapi.

CHOIRUL AMINUDDIN
sumber : http://www2.tempo.co/read/news/2012/03/12/201389536/Menyeruput-Susu-Kerbau-Sumbawa

 

Manisnya Pasar Susu Indonesia

TB News – Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang sangat besar. Di tengah pertumbuhan ekonomi, konsumsi daging dan susu terus meningkat.

Ketua Dewan Persususan Nasional Teguh Boediyana mengatakan, konsumsi susu nasional masih sangat rendah, baru 2 liter per kapita per tahun. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Malaysia yang telah 16-18 liter, dan bahkan Thailand 28 liter per orang per tahun.

Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 250 juta, pertumbuhan konsumsi satu liter per kapita per tahun akan meningkatkan kebutuhan susu nasional 250 juta liter. “Ini angka yang sangat besar,” katanya saat dihubungi VIVAnews, Selasa 17 April 2012.

Berdasarkan data Badan Pusat dan Statistik, produksi susu nasional pada 2009 sebesar 19,2 juta liter, dengan nilai Rp59,5 miliar. Produksi susu petani lokal, menurut Teguh baru bisa memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan domestik.

“Sisanya impor. Nilainya sampai US$700 juta Rp6,3 triliun,” katanya. Impor ini dari berbagai negara seperti Selandia Baru, Australia, dan Eropa.

Dalam catatan BPS, konsumsi telor dan susu pada tahun lalu baru 3,25 kg per kapita per tahun. Konsumsi ini turun dibandingkan tahun 2010, sebesar 3,27 kg.

Sebelumnya, di tengah lawatan ke Indonesia, Perdana Menteri Selandia Baru John Key menyatakan siap membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan yang meningkat pesat. Sebagai salah satu produsen daging dan produk berbasis susu, Selandia Baru siap membantu menjamin pemenuhan kebutuhan itu.

“Impor daging sapi berkualitas tinggi dari Selandia Baru hanya selalu menjadi pelengkap, bukan jadi tantangan bagi produksi dalam negeri di Indonesia,” kata Key.

Begitu pula dengan upaya Selandia Baru untuk meningkatkan ekspor produk berbasis susu ke Indonesia. “Jadi ada banyak peluang bisnis yang signifikan dalam memenuhi target ketahanan pangan di Indonesia, dan terutama dalam menjalin kemitraan baru antarpebisnis Selandia Baru dan Indonesia.”

Dalam mendukung pengembangan peternakan sapi Indonesia, Selandia Baru akan memberikan dukungan fasilitas produksi pemerahan susu agar Indonesia bisa memproduksi susu segar lebih banyak. Selain itu, Selandia Baru juga akan mendukung fasilitas pertanian, sehingga produksi daging lokal bisa terus meningkat.

Sekadar informasi, kekuatan Selandia Baru dalam dalam industri peternakan adalah sistem budidaya rumput, pengolahan skala besar, investasi riset, dan sistem pemasaran yang kreatif. Sehingga mendukung industri ini berkembang pesat dan diakui di komunitas internasional.

Sumber : VIVAnews.com

Kerbau Suka Menghadap ke Arah Utara ?

Kerbau selalu menghadap ke Utara

TB-News Kalian tentu sudah familiar dengan binatang ternak seperti sapi dan kerbau. Karena, binatang ternak itu banyak dipelihara oleh masyarakat, terutama masyarakat pedesaan, dan dagingnya juga lezat dan banyak dijual dipasar. Tahukah kalian bahwa ada fakta unik pada kebiasaan hewan bertanduk itu. Berdasarkan penelitian yang dilakukan ahli binatang dari University of Duisburg Essen Jerman, Swabine Begall, menunjukkan bahwa ternyata kerbau suka berdiri menghadap utara.

Menggunakan foto satelit dari Google Earth, ia mengamati 8.510 kerbaru dari 308 lokasi yang berbeda. Ia juga mengawasi kawanan rusa di Republic Ceko-slovakia. Hasilnya sama, kawanan binatang itu juga suka memandang ke arah utara. Tak peduli angin, panas, hujan, siang atau malam, tetap saja utara menjadi arah favorit kerbau.

Mengapa bisa seperti itu ? Parah ahli menduga jika hewan menyusui itu memiliki kemampuan untuk merasakan posisi magnet bumi. Memang, bumi memiliki dua pusat magnet, yakin dikutub utara dan selatan. Fenomena alam itu dimanfaatkan untuk menunjuk arah menggunakan alat yang disebut dengan kompas. Hewan-hewan tersebut menggunakan arah utara sebagai acuan posisi awal. Selanjutnya, ia bergerak menggunakan acuan tersebut. Dengan demikian, mereka tak tersesat saat menempuh perjalanan. (Sumber: faktaunik.blogspot.com)

Kambing Senduro yang “Go Internasional”

Kambing Senduro

TB-News Satu lagi ternak asli Indonesia yang telah dikembangkan dan kualitasnya telah teruji oleh negara tetangga. Ini terbukti dengan adanya patung kambing etawa jenis Senduro yang berdiri tegak di salah satu peternakan modern dan terbesar di Malaysia (UK Farm). Seperti diutarakan Hendra Hidayat peternak kambing asal Lumajang, Jawa Timur, patung kambing yang berada di salah satu peternakan Malaysia adalah kambing etawa ras senduro. “Disana lebih terkenal dengan nama kambing jamnapari,” cetus pria yang bersama saudaranya memiliki Etawa Jaya Farm ini.

Pihak UK Farm mengakui, kambing jamnapari yang mempunyai warna dominan putih tersebut diimpor dari Indonesia. Sejarahnya, Presiden Soekarno membawa kambing jamnaparidari Uttar Pradesh– India ke Indonesia untuk keperluan pengembangan silang pada 1947. Uniknya, kambing etawa putih itu hanya bisa ditemui di Senduro, sebuah desa yang terletak di kaki gunung berapi di daerah barat Kota Lumajang, Jawa Timur”.

“Sementara peternak di Lumajang menamakan kambing etawa senduro dengan sebutan kambing Etsen (Etawa Senduro),” ujar Hendra.Sedikit informasi, ia mengatakan kambing etawa senduro  menembus pasar Malaysia dengan derasnya. Terutama sekitar 2002 – 2008 volume ekspornya mencapai lebih dari 2.000 ekor. Sementara itu, Bambang Setiadi, peneliti Balitnak (Balai Penelitian Ternak) Bogor  beberapa waktu lalumengatakan,kalau dilihat sejarahnya, kambing etawa ras Senduro berasal dari Kaligesing. Lalu dibawa ke Lumajang dan sudah lama dipelihara oleh para peternak setempat. “Selain itu dilakukan juga seleksi oleh masyarakat,” jelasnya.

Continue reading