Penyakit “Strangles”

Nasal Discharge Pada Kuda Penderita Strangles

TBNews – Penyakit Strangles (ingus tenang/adenitis equorum) merupakan penyakit akut yang contagious yang menyerang kuda. Umumnya kuda yang terinfeksi ditandai dengan gejala limfadenitis terutama pada sub maxilaris. Selain itu  peradangan  terjadi  pada  saluran  pernafasan  atas  yang  disertai  dengan  discharge mucopurulen dari hidung terus menerus. Organisme penyebab adalah Streptococcus equi yang mampu beradaptasi dengan host dan menghasilkan gejala klinis pada kuda, keledai dan bagal. Bakteri ini memiliki sifat gram positif, berkapsul, β hemolitik group C lancefield kokus, yang merupakan parasit obligat dan patogen primer.

Faktor virulensi yang terlibat dalam patogenesis infeksi strangles termasuk kapsul asam hyaluronic, M protein seperti Sem dan SzPSe, streptolysin S, dan exotoxins superantigenicpyrogenic seperti SeeH, SEM dan SeeH diperlihatkan oleh semua isolat S. equi zooepidemicus. Strangles dapat menyerang hewan segala usia, tetapi paling sering terjadi pada anak kuda kurang dari 2 tahun kecuali di bawah usia 4 bulan, yang biasanya dilindungi oleh kekebalan pasif kolostrum. Strangles sangat menular, dengan transmisi terjadi oleh mulut dan hidung. Langsung maupun tidak langsung kontak  dengan ekskresi hewan yang tertular.

Continue reading

Advertisements

Penyakit “Hog Cholera”

Pendarahan bagian dalam (limpa, ginjal, dan usus) babi yang disebabkan virus hog cholera

TBNews-Hog cholera merupakan penyakit yang disebabkan oleh  virus yang menular pada babi secara  akut ditandai demam tinggi, perdarahan umum dan nekrosa dalam alat badan dan saluran pencernakan dgn morbiditas dan mortilitas tinggi. Hewan yang rentan terhadap penyakit ini adalah  babi (hutan & piaraan). Etiologi dari penyakit Hog Cholera adalah dari genus Togavirus yang memiliki asam inti berupa RNA, berdiameter  38 – 44 nm,  berbentuk  bulat beramplop , Nukleokapsid berbentuk  simetri kubik.

Penularan penyakit ini ada 2 cara yaitu kontak langsung  :  babi yang sakit ke babi yang sehat dan kontak tak langsung  lewat  makanan yg tercemar sekreta & ekskret, alat yang tercemar, hewan / manusia, cacing paru sapi, dan perlu diingat bahwa babi yang sembuh  bisa menjadi carrier. Pathogenesis penyakit ini adalah virus melalui mulut / inhalasi menuju  limfoglandula saluran  nafas atas / tonsil, ikut bersama aliran darah (lekosit )dan beredar ke  seluruh jaringan. Virus ini akan merusak jringan karena memiliki afinitas khusus pada jaringan mesoderm (hemopoietik & vascular) maka akan menyebabkan leucopenia dan trombositopenia.

Gejala klinis dari penyakit ini diawali suhu tubuh 40-42°C, depresi, anoreksia, lemah hemoragi pd kulit (petechia&echymotic) hiperemi kulit, pembengkakan lgg, dan constipasi kadang-kadang berdarah. Bila berlanjut maka babi akan mengalami diare / desentri, konjungtivitis (eksudat kuning disekitar mata ), berjalan tanpa koordinasi (scissor walking) dan disertai konvulsi.  Masa inkubasi : 6-7 hari , babi mati hari ke-7 – 10 pasca sakit. Mortalitas pada penyakit Hog Cholera pada babi bisa mencapai 100%.

Continue reading

Penyakit BLUE TONGUE

         

Gejala Klinis Blue Tongue, terlihat Lidah dari kambing yang berwarna biru

TBNews-Kasus BT (Blue Tongue) di Indonesia pada ternak lokal belum pernah dilaporkan. Wabah BT hanya terjadi pertama kali dan terakhir kali pada domba impor Suffolk pada tahun 1981. Saat itu morbiditasnya mencapai 90% dengan mortalitas 30%.  Bluetongue adalah salah satu penyakit arbovirus. Penularan penyakit tidak melalui kontak langsung, tetapi harus melalui vektor nyamuk. Jenis nyamuk yang dapat bertindak sebagai vektor antara lain adalah jenis Culicoides spp.

Penularan virus melalui vektor terjadi secara mekanis maupun biologis, atau melalui inseminasi buatan dengan semen yang telah terkontaminasi virus BT. Penularan ini tidak dapat melalui kontak langsung, makanan dan udara. Penularan secara mekanis terjadi apabila virus ditularkan tanpa melalui proses replikasi pada tubuh serangga. Penularan secara biologis terjadi apabila virus bereplikasi pada tubuh vektor sebelum ditularkan ke ternak lainnya. Vektor berupa serangga memainkan peranan yang sangat penting dalam menularkan penyakit BT dari hewan yang satu ke hewan yang lain. Hingga saat ini vektor BT yang telah diketahui antara lain adalah C. brevitarsis, C.fulvus, C. imicola, dan C. variipennis .

Continue reading

Penyakit Koksidiosis Pada Sapi

Tegang Akibat Koksidiosis, Menyebabkan Dubur Prolaps

TBNews– Sobat TB pasti sudah pernah mendengar tentang penyakit koksidiosis bukan? Ya. penyakit yang sering menyerang  pada  ayam  yang disebabkan oleh Eimeria sp dan Isospora sp. Pada Unggas biasanya disebabkan oleh sembilan jenis Eimeria sp yang berbeda terutama Eimeria tennela. Tahukan teman-teman bahwa koksidiosis dapat menyerang beberapa ternak ruminansia termasuk sapi namun jenis Eimeria yang menyerang sapi dan ayam merupakan jenis Eimeria yang berbeda.

Penyakit koksidia sapi  disebabkan oleh galur koksidia yang paling patogen,  yaitu infeksi  campuran E. zuernii dan E. Bovis. Eimeria tersebut adalah spesies yang paling patogen, tetapi E. auburnensis dan spesies lain dapat memberikan gambaran penyakit ini secara total, beberapa diantara spesies tersebut dapat memberikan tanda-tanda yang jelas. Galur ini banyak menyerang sapi jenis Bos taurus dan Bos indicus, juga menyerang Bubalus bubalis.

Koksidiosis sapi merupakan penyakit yang menyerang pada hewan-hewan muda. Biasanya terdapat pada anak sapi umur 3 minggu sampai 6 bulan. Anak sapi yang umurnya lebih tua bahkan dewasa dapat terserang pada kondisi pencemaran berat, tetapi biasanya mereka tidak memperlihatkan gejala penyakit dan bersifat Carrier. Anak-anak sapi terkena infeksi karena menelan ookista-ookista bersama-sama dengan pakan atau dengan melalui air minum. Mortalitas yang cukup tinggi dapat di temukan pada anak anak sapi yaitu berkisar antara 26-42%. Keparahan penyakit tergantung pada jumlah ookista yang menginfeksi. Jika ookista yang masuk sedikit maka tidak ada tanda-tanda penyakit, infeksi yang berulang-ulang dapat menghasilkan imunitas terhadap penyakit tersebut, dan begitupun juga sebaliknya.

Continue reading