Ancaman Australia dan Swasembada Daging Sapi

Kekejaman terhadap Sapi Potong Australia

Akhir Mei 2011 masyarakat Australia digemparkan oleh pemberitaaan media, ulasan, kemarahan dan keprihatinan terhadap video dan gambar penyiksaan sapi di empat rumah potong hewan (RPH) Indonesia. Sapi-sapi yang dipotong itu ditengarai adalah sapi impor asal Australia sesuai dengan karakter fisiknya yang besar, dengan bobot ratusan kilogram dan warna yang khas. Jaringan radio dan televisi Australian Broadcasting Corporations (ABC) berhari-hari mengangkat pemberitaan tersebut, diawali dengan program tayangan Four Corner berjudul “A Bloody Business”, yang diikuti wancara dengan pejabat, pelaku bisnis dan politisi di Australia. Hasilnya, masyarakat Australia menjadi marah dan geram kepada Indonesia, hingga muncul tekanan publik, terutama dari para pelobi Animal Welfare dan Partai Hijau, kepada Pemerintah Federal Australia untuk menghentikan ekspor sapi hidup ke Indonesia.

Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig secara hati-hati berkomentar untuk memperbaiki fasilitas pengapalan (animal restrain box) sapi-sapi ekspor itu dan akan melakukan review menyeluruh sebelum mengambil keputusan untuk menghentikan ekspor sapi hidup ke Indonesia. Tekanan dari kelompok pelobi itu sangat besar kepada Canberra, terutama yang disuarakan oleh politisi minoritas, tapi amat vokal, dipelopori oleh Andrew Wilkie dari Partai Hijau. Argumen yang diusung cukup sederhana bahwa dengan mengolah daging di dalam negeri Australia, hal itu akan meningkatkan nilai tambah dan menciptakan tenaga kerja di Australia, dibandingkan dengan dengan mengekspor sapi hidup ke Indonesia, apalagi diperlakukan kejam seperti pada tayangan media Australia itu.

Continue reading

Advertisements